Jambi, Sitimang.com – Aktifitas pembukaan sekolah sebagai tahapan belajar-mengajar secara langsung dan tatap muka direncanakan akan dimulai pada 13 Juli mendatang. Rencana ini banyak mendapatkan kecaman dari orang tua dan wali murid, khususnya orang tua pelajar tingkat SD dan SMP sederajat.Berdasarkan hasil wawancara sitimang.com terhadap sejumlah orang tua dan wali murid, mayoritas menolak dilaksanakan kegiatan belajar-mengajar secara langsung. Menurut Dwi misalnya, ibu dari seorang pelajar SD di wilayah Telanaipura ini mengaku khawatir dengan ketidaksiapan sekolah dalam penerapan protokol kesehatan.
“Apa jaminan dari pemerintah atau sekolah terkait keselamatan kesehatan anak kami? Menurut saya, kebanyakan sekolah belum tegas terkait protokol kesehatan,” ujarnya pada sitimang.com.
Komentar senada juga disampaikan Yanti. Ibu dari seorang pelajar SMP di bilangan Simpang Kawat ini keberatan bila siswa harus belajar secara tatap muka langsung. Menurutnya, para siswa akan sulit menerapkan protokol kesehatan dikarenakan sifat alami pelajar SD dan SMP masih suka bermain serta berkerumun.
“Anak SD atau SMP kan masih suka lari-lari, bermain dan ngumpul. Saya disitu takutnya, emang guru bisa mengawasi semuanya atau bersikap tegas,” katanya saat ditemui Rabu pagi (8/7/2020).
Penuturan serupa pun disampaikan Yuni. Ibu empat anak ini mengaku khawatir dengan perlindungan kesehatan anaknya saat berada di sekolah di masa pandemi corona. Menurutnya, pelajar SD masih belum mengerti secara total mengenai penerapan protokol kesehatan.
“Emang anak SD ngerti physcal distancing? Apakah pemerintah yakin pelajar SD tidak berkerumun atau bergerombol,” ujar ibu dari seorang pelajar SD di Kecamatan Kota Baru ini
Berdasarkan hasil wawancara sitimang.com terhadap sejumlah orang tua dan wali murid, mayoritas menolak dilaksanakan kegiatan belajar-mengajar secara langsung. Menurut Dwi misalnya, ibu dari seorang pelajar SD di wilayah Telanaipura ini mengaku khawatir dengan ketidaksiapan sekolah dalam penerapan protokol kesehatan.
“Apa jaminan dari pemerintah atau sekolah terkait keselamatan kesehatan anak kami? Menurut saya, kebanyakan sekolah belum tegas terkait protokol kesehatan,” ujarnya pada sitimang.com.
Komentar senada juga disampaikan Yanti. Ibu dari seorang pelajar SMP di bilangan Simpang Kawat ini keberatan bila siswa harus belajar secara tatap muka langsung. Menurutnya, para siswa akan sulit menerapkan protokol kesehatan dikarenakan sifat alami pelajar SD dan SMP masih suka bermain serta berkerumun.
“Anak SD atau SMP kan masih suka lari-lari, bermain dan ngumpul. Saya disitu takutnya, emang guru bisa mengawasi semuanya atau bersikap tegas,” katanya saat ditemui Rabu pagi (8/7/2020).
Penuturan serupa pun disampaikan Yuni. Ibu empat anak ini mengaku khawatir dengan perlindungan kesehatan anaknya saat berada di sekolah di masa pandemi corona. Menurutnya, pelajar SD masih belum mengerti secara total mengenai penerapan protokol kesehatan.
“Emang anak SD ngerti physcal distancing? Apakah pemerintah yakin pelajar SD tidak berkerumun atau bergerombol,” ujar ibu dari seorang pelajar SD di Kecamatan Kota Baru ini.
Secara terpisah, Pj Sekda Provinsi Jambi, Sudirman, mengatakan, Dinas pendidikan Provinsi Jambi seharusnya memiliki simulasi kembali dibukanya aktivitas sekolah. Selain itu, idealnya pembukaan aktivitas belajar-mengajar harus mendapatkan persetujuan dari tim gugus tugas covid-19.
“Contohnya seperti ruang kelas yang sebelumnya terisi 30 siswa menjadi 15 siswa atau pelajaran menjadi masuk pagi dan siang,” ujarnya, Rabu (08/07/2020).
Hingga saat in, Sudirman masih menunggu kepastian dari Kepala Disdik Provinsi Jambi terkait akan dibukanya kembali aktivitas sekolah. Oleh karena itu, hingga saat ini pemerintah masih disibukkan dengan proses penerimaan siswa baru.
Sudirman menuturkan, Disdik harus memperhatikan kesiapan sekolah sebelum membuka kembali aktivitas.
“Sekolah itu harus mempedomani protok kesehatan. Setiap siswa harus menjaga jarak hingga memakai masker dan Disdik harus yakin tidak akan terjadi penambahan kasus Covid-19 di lingkungan pendidikan Jambi. Jangan sampai ketika dibuka memunculkan klaster baru dari sekolah,” katanya.
Diakhir pembicaraan, Sudirman menegaskan jika Disdik Jambi belum siap sebaiknya aktivitas sekolah jangan dimulai terlebih dahulu.
Discussion about this post