ADVERTISEMENT
Saturday | August 30, 2025
  • ADVERTORIAL
  • SELOKO
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • KERINCI
    • KOTA JAMBI
    • MERANGIN
    • MUARO JAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAI PENUH
    • TANJABBAR
    • TANJABTIM
    • TEBO
  • METROPOLIS
  • INTERNASIONAL
  • HIBURAN
  • OPINI
  • RAGAM
  • RELIGI
Mengabarkan & Terpercaya
Advertisement
  • ADVERTORIAL
  • SELOKO
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • KERINCI
    • KOTA JAMBI
    • MERANGIN
    • MUARO JAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAI PENUH
    • TANJABBAR
    • TANJABTIM
    • TEBO
  • METROPOLIS
  • INTERNASIONAL
  • HIBURAN
  • OPINI
  • RAGAM
  • RELIGI
No Result
View All Result
  • ADVERTORIAL
  • SELOKO
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • KERINCI
    • KOTA JAMBI
    • MERANGIN
    • MUARO JAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAI PENUH
    • TANJABBAR
    • TANJABTIM
    • TEBO
  • METROPOLIS
  • INTERNASIONAL
  • HIBURAN
  • OPINI
  • RAGAM
  • RELIGI
No Result
View All Result
Mengabarkan & Terpercaya
No Result
View All Result

SEJARAH: Saat Ibadah Terganggu Wabah

by PISTOL
06/06/2020
in OPINI
Reading Time: 3 mins read
0
1
VIEWS
ShareTweetSend
Oleh Risa Herdahita Putri

Jambi, Sitimang.com – Beberapa waktu lalu, pemerintah melalui Kementerian Agama RI mengumumkan pembatalan keberangkatan jemaah haji 1441 H/2020 M. Pembatalan ini dilakukan karena tidak adanya kepastian dari Arab Saudi terkait akses haji secara resmi.

Terganggunya pelaksanaan ibadah haji karena wabah ini bukan kali pertama terjadi. Oman Fathurahman, Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah, menyebutkan, pelaksanaan ibadah haji sudah beberapa kali terganggu dan dihentikan.

“Makkah ditutup, Jeddah pernah dibuat pos khusus, dipagari betul, yang masuk dipastikan dulu,” katanya dalam seminar daring lewat aplikasi zoom tentang “Wabah dalam Lintasan Sejarah Umat Manusia” yang diselenggarakan Museum Nasional beberapa waktu lalu, seperti yang dikutip dari historia.id.

Sejarawan abad pertengahan, Badruddin Mahmud al-‘Ayni menulis tentang wabah yang menyerang Makkah dalam ‘Iqd al-juman fi Tarikh ahl al-zaman. Dikutip sejarawan Amerika Serikat, Michael Walters Dols, dalam The Black Death in the Middle East, bahwa al-‘Ayni mencatat pada 1348–1349 wabah Maut Hitam menyerang Makkah. Epidemi itu mungkin dibawa oleh lalu lintas haji. Akibatnya sejumlah besar jemaah haji menjadi korban.

Kondisi itu menjadi perbincangan para cendekiawan muslim pada masanya. Pasalnya, Nabi Muhammad SAW menjanjikan bahwa tak akan ada wabah yang bisa masuk ke kota suci Makkah dan Madinah.

“Merupakan keajaiban wabah itu tak sampai ke Madinah. Maka mereka pun percaya kalau wabah menjangkit Makkah karena ada pelanggaran dengan keberadaan orang-orang kafir,” kata Oman.

Menurut Oman, interpretasi itu berdasarkan penyebutan wabah penyakit dalam bahasa Arab, yakni tha’un, yang arti harfiahnya adalah jin. Ada beberapa hadis yang menyebut wabah penyakit (tha’un) tak akan bisa memasuki Madinah. Sampai abad ke-14, Madinah tak tersentuh wabah, sedangkan Makkah terjangkit.

“Tapi sekarang kita tahu di Madinah juga ada yang positif (Covid-19, red.). Jadi, ini perlunya reinterpretasi teks keagamaan,” kata Oman. “Apa berarti hadis Nabi keliru? Saya percaya tidak, yang belum sampai itu penafsiran kitanya.”

Terganggunya haji akibat pandemi juga dicatat oleh Muhammad al-Manjibi al-Hambali atau Muhammad bin Muhammad al-Manjibi, ulama Suriah Utara abad ke-14. Ia menjadi saksi saat wabah Maut Hitam merebak di wilayahnya pada Rajab 775 H (1373), lalu meningkat menjelang akhir Syawal, Zulkaidah, Zulhijah, kemudian menurun pada Muharam tahun berikutnya.

“Berapa bulan itu coba? Rajab, Syakban, Ramadan, Syawal, Zulkaidah, Zulhijah, Muharam,” kata Oman. “Bayangkan haji terganggu.”

Oman menyebut pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, kegiatan haji pun menjadi salah satu penyebab merebaknya pandemi. “Bukan hajinya tapi aktivitas haji sebagai kebudayaan,” ujar Oman.

Selain Maut Hitam, wabah kolera juga merenggut nyawa ribuan jemaah haji dalam beberapa tahun sepanjang abad ke-19. Menurut sejarawan F.E. Peters dalam The Hajj: The Muslim Pilgrimage to Mecca and the Holy Places, kendati sudah lama ada di India, kolera tak dilaporkan merebak keluar anak benua. Sampai pada 1817 dan 1823 kolera muncul di pelabuhan-pelabuhan pulau di sekitar Samudera Hindia.

“Dimulai di India pada 1817,” tulis Peters, “penyakit ini menyebar ke seluruh dunia.”

Pada 1831, kolera merebak pertama kali di Makkah. Sejak saat itu hingga abad ke-20, kolera hampir selalu muncul di kota suci umat Islam itu. Peters menyebut epidemi kolera tahun 1865 dibawa jemaah haji dari Jawa dan Singapura. Sepertiga di antaranya tewas selama haji. Tercatat wabah telah membunuh 15.000 dari 90.000 jemaah. Kolera lalu menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke Amerika Serikat dan Eropa, dengan dua juta kematian.

Kolera tersebar melalui kapal-kapal yang membawa jemaah haji ke Terusan Suez. Saat itu mereka melaporkan kepada pihak berwenang setempat bahwa tidak ada penularan penyakit. Padahal, sejak meninggalkan Jeddah pada bulan Mei, lebih dari 100 mayat dibuang ke laut. Pada Juni, kolera mengamuk di Alexandria. Sebanyak 60.000 orang Mesir meninggal dalam tiga bulan.

“Pada bulan yang sama kolera mencapai Marseilles, Prancis, kemudian sebagian besar kota di Eropa. Pada November 1865, kolera dilaporkan berjangkit di New York,” tulis Peters.

Menurut Ken Chitwood dalam “Hajj Cancellation Wouldn’t be the First-Plague, War and Politics Disrupted Pilgrimages Long Before Coronavirus” yang termuat di The Conversation, wabah kolera di kota suci Makkah dan Madinah pada 1858 sampai memaksa ribuan orang Mesir melarikan diri ke perbatasan Mesir di Laut Merah, di mana mereka dikarantina sebelum diizinkan kembali.

Kolera menjadi “ancaman abadi” untuk sebagian besar abad ke-19 dan awal abad ke-20. Ancaman itu sering mengganggu pelaksanaan haji.

“Bahkan, dengan begitu banyak wabah dalam runtutan kejadian yang begitu cepat, haji sering terputus sepanjang pertengahan abad ke-19,” tulis Chitwood.

Oman menduga transimisi wabah kolera di Asia Tenggara terjadi melalui jemaah haji. Karenanya pada masa itu haji dianggap sebagai kegiatan yang membahayakan.

“Karena memang sangat fatal,” kata Oman. “Dari kerumunan penularan terjadi. Persebaran wabah ini sangat terkait aktivitas keagamaan.”

Sumber: historia

Tags: hajiibadahibadah hajipandemipembatalan hajipembatalan haji 2020Wabah

Related Posts

OPINI: Dana Abadi Untuk Festival Tahunan Puisi Esai

20/11/2024

WARNA HUKUM DAN WARNA SUARA MASYARAKAT

06/08/2024

OPINI: Mengapa Quick Count Satu Putaran Layak Dipercaya?

17/02/2024

Air di Danau Kerinci Meluap , Apakah Ada Kaitannya dengan PLTA Dan Galian C

14/01/2024

Kabut Asap Merupakan Gambaran Gagalnya Pemangku Kebijakan di Provinsi Jambi

06/10/2023
Tengku Gilang Pramanda

Stadion Sepak Bola Megah Rampas Fasilitas Pendidikan di Pijoan oleh Gubernur Jambi Al Haris

16/07/2023
Next Post

Sebelum Terbang Hasil Uji Negatif, Saat Mendarat 12 Penumpang Dinyatakan Positif Corona

2 Keluhan dari Tanjab Barat & Sarolangun Diterima KPK Terkait Penyaluran Bansos

Diduga Terpeleset, Seorang Warga Tebo Hanyut & Tenggelam

Dirjen GTK Kemendikbud: Keamanan, Kesehatan & Keselamatan Siswa Adalah Prioritas Saat New Normal

Melawan Saat Hendak Ditangkap, Pelaku Curas & Curanmor Terpaksa Ditembak di Kaki

Discussion about this post

Media Partner

Ads

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-6217284812823113″
crossorigin=”anonymous”></script>

  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • REDAKSI
  • SITIMANG GRUP
  • TENTANG KAMI

© 2020 Sitimang - Jalan HM Yusuf Singedekane, Lorong Purnawira, No 7, RT 21, Telanaipura, Kota Jambi. Kode Pos 36122. Developed by Ara.

No Result
View All Result
  • ADVERTORIAL
  • SELOKO
    • BATANGHARI
    • BUNGO
    • KERINCI
    • KOTA JAMBI
    • MERANGIN
    • MUARO JAMBI
    • SAROLANGUN
    • SUNGAI PENUH
    • TANJABBAR
    • TANJABTIM
    • TEBO
  • METROPOLIS
  • INTERNASIONAL
  • HIBURAN
  • OPINI
  • RAGAM
  • RELIGI

© 2020 Sitimang - Jalan HM Yusuf Singedekane, Lorong Purnawira, No 7, RT 21, Telanaipura, Kota Jambi. Kode Pos 36122. Developed by Ara.